Jumat, April 25, 2008

Hell No !

Kemaren itu gue sempat menyinggung soal surga, nah sekarang ini gilirannya neraka.
Jika surga adalah tempat terindah yang bisa saja berbeda – beda bentuknya, tergantung seperti apa kita memandang sebuah kebahagiaan dan keindahan, berarti bisa dikatakan bahwa neraka adalah penggambaran dari mimpi terburuk, segala hal yang paling menakutkan, menjijikan atau yang paling kita benci, atau gabungan dari semuanya.

Ada temen gue yang amat sangat membenci sekaligus jijik dengan bulu ayam. Dan tiba – tiba dia berkata bahwa habislah dia jika dia bernasib buruk dan masuk neraka, sementara nereka itu adalah sebuah tempat yang berisi bulu ayam !
Well, kita semua tahu di dunia ini banyak sekali hal yang mungkin biasa saja bagi sebagian orang ternyata begitu menyeramkan bagi sebagian yang lain. Hal seperti ini paling banyak sih terkait dengan yang sifatnya phobia. Ada yang jijik dengan peniti atau kancing baju, ada yang histeris hanya dengan melihat motif baju polkadot, pun ada pula yang membenci kucing.
Ga bisa gue bayangkan bahwa tempat yang menyeramkan seperti neraka adalah tempat dengan banyak kancing, tempat dimana kita dipaksa memakai baju motif polkadot dan berpeniti banyak, atau tempat dimana kita diharuskan memelihara seratus ekor kucing.

Lalu, gue tiba - tiba teringat teman gue yang lain. Dia paling takut dengan berbagi jenis serangga, termasuk salah satunya adalah kupu – kupu.
Ya, kupu – kupu.
Sementara bayangan gue tentang surga adalah tempat dengan aneka warna kupu – kupu.

Apakah dengan demikian sebenarnya surga atau neraka adalah tergantung bagaimana kita menerimanya ?

By the way, jika nanti gue juga bernasib buruk dan juga masuk neraka, bisa tidak ya, minta tukar tempat ? (^0^)
Yaah, siapa tahu kan, ada penghuni neraka yang merupakan penyayang jenis-jenis binatang melata sementara ia membenci bunga….

Kamis, April 24, 2008

I Dream of Heaven

Seorang sahabat pernah berkata bahwa kita sebenarnya hidup pada dua dimensi yang berbeda. Kita yang sekarang ada di dunia ini dan kita yang lain ada di suatu tempat. Yang sama sekali asing. Bukan Negara, bukan wilayah. Hanya suatu tempat tertentu.
Kita yang hidup di tempat itu, memiliki link yang langsung terhubung ke kita yang saat ini hidup di dunia.
Mugkinkah itu adalah personifikasi dari jiwa, pikiran dan keinginan kita. ? Entahlah.
Terus terang gue ingin sekali percaya bahwa beneath or above this world, ada sebuah dunia maha indah dimana kita diterima dengan tangan terbuka di dalamnya. Tempat yang begitu luas sehingga bisa menampung siapa saja.
Dan meskipun gue belum berada pada tahap itu, rupanya nyaman juga jika memulai pembicaraan mengenainya.
Image and video hosting by TinyPic
Kerena memiliki link langsung kepada kita di sini, kegiatan kita disana juga seharusnya bisa terbaca dari apa yang tengah berkecamuk dalam jiwa kita.
A perfect analogy, I presume.
Contoh saja, jika kita mengalami kelelahan yang amat sangat, kita akan terlihat tertidur dengan pulas di sebuah tempat ternyaman yang pernah kita impikan. Jika deep down inside kita memiliki pertanyaan-pertanyaan yang sangat membutuhkan jawaban, atau otak kita sedang berputar keras tatkala menyelesaikan sesuatu masalah, bisa jadi kita terlihat sedang membaca.

Saat berbicara dengannya, gue menanyakan sedang apa ‘gue’ sekarang, dan saat itu ia menjawab bahwa gue sedang membaca buku yang sangat tebal dibawah sebuah pohon. Nyaman sekali tampaknya
Diwaktu yang lain, dilihatnya gue sedang tidur di bawah pohon.
Gue lalu bertanya, kenapa gue menyukai pohon itu.
Hmm.. banyak hal. Bisa jadi pohon itu adalah penggambaran perlindungan dan kenyamanan, atau keinginan akan hal itu. Tetapi bisa jadi gue memang sudah memimpikannya sejak lama.
Saat gue teringat sesuatu, gue tanya lagi apakah tempat dimana pohon itu berada adalah tempat yang dipenuhi dengan bunga ?
Dan ia meng-iyakan.
Hmm.. surgakah ? Atau hanya suatu tempat misterius yang berada di suatu titik tertentu dari otak kita yang mem-visualisasi diri ?

Gue selalu membayangkan surga adalah tempat yang penuh warna. Dan warna – warna itu muncul dari bunga, tumbuhan dan pepohonan disana. Tidak ada apa – apa lagi. Hanya pohon, tumbuhan dan jutaan bunga.
Binatangnya ? well burung Phoenix, kupu – kupu dan Pegasus, mungkin.
Well, sangat imaginative, bukan ? ;p
Mungkin saja mimpi gue ini sama saja dengan mimpi banyak orang tentang surga, atau bahkan mimpi anak balita. Tetapi gue tidak bisa membayangkan tempat lain yang senyaman dan sedemikian bersahabat kecuali tempat seperti itu.

It is what it is.
Suami gw bilang bahwa ia yakin penggambaran surga bagi masing2 orang berbeda2. Tergantung seseorang seperti apa orang tersebut melihat sebuah keindahan, dan pada kondisi apa dan bagaimana seseorang merasakan paling bahagia, terlindungi dan nyaman, maka disitulah surga-nya berada.


Lalu kira – kira seperti apa surgamu kelak ?
Ataukah seperti John Constantine, kamu yakin bahwa surga sebenarnya ada di tempat kita berpijak sekarang, berdampingan dengan neraka ?

Orlando, Engkaulah Matahari !

Pada suatu masa yang belum terlalu lama meninggalkan kita, kita dapat menemui seorang lelaki muda yang suka membuat orang lain senang dengna melakukan hal – hal sederhana. Layaknya, beberapa orang menyukainya, dan beberpa yang lain justru mencurigainya. Namun, pada kenyataannya, kebanyakan dari mereka menganggapnya biasa – biasa saja. Diantara kepala – kepala hitam yang mengetahui keberadaanya, tersebutlah seorang perempuan cantik bernama : Lyn. Perempuan muda yang rumahnya berhadapan dengan tempat tinggal pemuda itu. Perempuan muda berusia 18 tahun. Perempuan muda dengan puluhan laki – laki di belakangnya, yang pernah mendambakan cinta darinya. Dan lepas dari mereka, ia memilih pemuda itu untuk ia puja. Betapa puluhan belaian, ratusan anggukan, ribuan senyuman, dan jutaan keringan tangan-an pemuda itu tidak pernah lepas dari mata Lyn. Siang malam Lyn memimpikannya, mendambakannya, membisikkan namanya. Hanya itu. Tidak ada tindakan lebih jauh. Hanya jendela kamarnya yang menjadi teropong terbaiknya. Busur cintanya. Paling – paling, tindakannya yang paling hebat adalah menunggui pemuda itu di teras depan rumahnya sendiri. Berpura – pura menyiram tanaman atau membaca, ia nikmati sepenuh hati senyuman lelaki itu sesekali kala kebetulan ia menoleh pada Lyn.
Demikianlah. Bagi Lyn, jendela kamarnya adalah jendela dunia, dan pemuda itu adalah dunianya. Diamata Lyn, pemuda itu adalah perwujudan manusia yang sempurna. Wajahnya tampan dengan kulit terang bersih, rambut tebal, ditengahi dengan pandangan mata dan senyum yang menghanyutkan. Merasa ada yang kurang, Lyn kemudian berusaha mengingat – ingat siapa namanya. Dan iapun tiba – tiba terhenyak sebelum kemudian tertawa. ORLANDO ! ya, bagaimana ia bisa lupa ! Namanya Orlando !
“Benar, Bunda ! Orlando ! Masa Bunda tidak tahu ? Bukannya ibu kenal dia?!” begitu tegasnya suatu kali, saat dilihatnya sang Bunda sedikit mengerutkan kening.
“Bunda, hari ini Lando pergi ke tempat kerjanya pakai baju biru laut yang aku suka itu. Cakep deh ! Eh, kenapa ya tiap sore dia pergi ke jalan Mangaan bawa bungkusan ? “ suatu kali ia pernah bertanya pada ibunya. Orang yang setidaknya mau mendengarkan segala puja pujinya untuk pemuda itu meski untuk 5 atau 10 menit saja.
Biasanya sang ibu hanya menatapnya dalam – dalam, tersenyum kecil.
“Iya sayangku. Dia sayang sekali sama ibu anak gelandangan yang tidur di emperan toko Cik Yan. Dia bawakan kue – kue, nasi plus lauk tiap sore” entah mengapa Lyn melihat kelelahan di mata ibunya saat berbicara, meski kemudian beliau tersenyum, “Apa sih yang sebenarnya ingin kamu ketahui tentang dia?”
Hening.
“Apa dia udah punya pacar ya Bunda ?” akhirnya ia berkata dengan wajah memerah.
“ Sepertinya belum, sayangku. Kan kau lihat sendiri ia tidak belum pernah terlihat mesra dengan perempuan ?!” perempuan setengah baya itu berkata sambil beranjak. Sebelum benar – benar meninggalkan putrinya, sempat terlihat kilauan yang sedikit menyilaukan dari mata Lyn.
Sesaat setelah ibunya berlalu, senyum perempuan muda itu menyurut. Ada rasa kesal dan ketidak mengertian yang besar dikarenakan ia merasa orang – orang di sekitanya kurang dapat memahami apa yang tengah bergejolak di hatinya. Seakan semua orang di rumah ini berteriak tatkala suatu hari nanti Lyn bisa mendampingi pemuda itu. Seakan seluruh dunia akan mampu melakukan hal – hal besar yang memungkinkan keduanya tidak dapat bersatu. Hmm, TIDAK DAPAT DIBIARKAN !!
Dan …. karena itulah kemudian Lyn tiba – tiba saja ingin menjadi salah seorang dari para wanita pejuang cinta yang pernah dikenalnya. Seperti Juliet, seperti Satine, seperti Rose, seperti Eng Tay, seperti Shinta, seperti Sayekti. Apapaun yang akan terjadi, siapapun yang kelak menghalangi, ia akan tetap maju ke depan ! Berusaha untuk tetap bertahan demi seorang Orlando !! Ya, aku harus berjuang !! begitu Lyn bertekad.
Dengan begitu, maka iapun tak goyah tatkala kakak perempuannya berujar sinis,
“Kamu mengharapkan laki – laki yang tak mungkin !”
“Tidak mungkin apanya ??! Segalanya serba mungkin ! Lagipula kan Orlando hanya sebatas beberapa langkah kita dari depan rumah !”
“HAH ?? ORLANDO ??”
“Iya ! Memang kenapa ? Namanya kan memang Orlando !”
“Mmmh !” sang kakak mencibir, “Coba lihat kiri kananmu di dinding kamar ini ! Hampir di tiap sudut kamar kamu pasang poster dan fotonya ! Dengar ya, bukankah kamu namai dia dengan nama Orlando, karena kamu demen setengah mati dengan Orlando Bloom, yang bintang film itu ??!!”
“BUKAN!! Kakak jangan mengada- ada ! Namanya memeng Orlando, dan aku tahu persis siapa dia !” Lyn membantah sengit.
Sang kakaku memandangnya dengan pandangan aneh. Entah benar entah tidak, Lyn menangkap sedikit pandangan jijik, iba dan tidak percaya, bahkan ia sampai berkaca- kaca. Jarang kakaknya bisa sampai berkaca – kaca.
“Kamu.. adalah sesuatu yang tidak mungkin ! Kamu terlalu sering mengurung diri di kamar ! Kamu perlu keluar, Lyn. Ikutlah aku jalan – jalan. Cobalah bergaul lagi, Lyn. Kamu banyak berubah !”
“Kakak yang mesti banyak bergaul ! Buktinya, nama tetangga depan rumah saja tidak tahu !”
Dan Lyn tahu, kakak perempuannya kali ini menyerah. Seperti biasanya. Seperti yang lain pula, akhirnya sang kaka beranjak berlalu meninggalkan Lyn. Lyn tahu ia membutuhkan jawaban dari pertanyaan yang berkecamuk di batinnya, tapi jelas bukan dari ibunya, kakak atau Min, pembantu rumah tangganya.
Kemudian, bersualah Lyn dengan Ibu Ros dan Ibu Yun di teras rumahnya pada suatu sore. Kawan – kawan ibunya, yang kebetulan juga tetangga mereka. Dua ibu – ibu yang akan mencibir bila orang lain melakukan hal baik maupun buruk. Tidak ada bedanya. Meskipun hal – hal itu belum tentu benar pada kenyataannya. Namun, nama Orlando tiada pernah tersebut oleh mereka. Padahal Lyn berani sumpah, tidak ada seorangpun di lingkungan kompleks perumahan itu yang luput dari bahan pembicaraaan mereka. Apalagi bila tetangga- tetangga yang mereka bicarakan itu adalah orang kaya, punya pengaruh, cantik, tampan, genit, punya istri banyak, punya suami banyak, punya rumah banyak, punya mobil banyak, puya anak banyak, punya anjing banyak ! BAH !!
Apa iya dia seorang Santo ? Dermawan mulian ? Lelaki sejati ?
Tidak mungkin.
Tempo hari pernah mereka bicarakan dengan nada dengki tentang pak Tio yang menyumbangkan tanahnya untuk dibuat panti asuhan. Atau kisah ibu Nar yang tiap selepas Subuh berkeliling menawarkan sarapan berupa kue dan nasi bungkus nikmat teruntuk tukang sampah, tukang beca atau gelandangan. Tapi bukan tentang Orlando.
Lalu apa sebaliknya-lah yang lelaki itu lakukan ? Apa dia suka main perempuan ? Suka berjudi ? Mafia ? Bandar narkoba ? Pembunih berdarah dingin ? Pemerkosa ? Banci ?
Lyn bergidik membayangkannya, namun kemudian dengan pasti mencoret nama Orlando dari daftar itu. Ia yakin Orlando bukan yang semacam itu, meski bisa saja ia menyembunyikannya dari publik. Kalaupun ada kecurigaan itu, Orlando pasti sudah menjadi sasaran empuk mereka.
“Nak, buka matamu lebar – lebar sayang. Masa sih, orang seperti dia bisa kamu puja – puja setinggi langit ?! Jangan bercanda, ah ! Coba deh, jalan – jalan, cari pemandangan lain. Mandra saja masih jauh lebih mending “ begitu kata Ibu Ros sambil terkikik.
“Masa depan suram kalau kamu jadi sama dia, Nak ! Jangankan ngajak nonton atau membelikanmu baju atau perhiasan ! Cuman jalan – jalan seputar kompleks ini aja susah ! Ha ha ha ha ha !!!” kedua ibu itu tertawa.
“Mau ibu kenalkan dengan ponakan ibu ? Meskipun duda, masih tetap lelaki normal dia !” ibu Yun menimpali.
Mendengar itu, meskipun terheran – heran dengan apa yang mereka katakana, ‘daya juang’ Lyn bangkit.
“Tidak, terima kasih ibu – ibu ! Saya hanya memilih pemuda itu !” begitu ujarnya sambil berlalu meninggalkan kedua ibu itu saling berpandangan. Lyn terrsenyum. Ah, paling –paling sekarang aku jadi sasaran gossip mereka ! Tak akan jauh lebih buruk dari itu, pikir Lyn.
Senyum Lyn masih mengembang tatkala perlahan ia memasuki rumah. Entah mengapa saat ini perasaanya justru makin berbunga – bunga. Rasa gembira yang aneh. Ingin ia bergegas masuk ke kamarnya untuk melihat sang pujaan hati pulang kerja, tatkala ia lihat ibunya duduk di sofa ruang tengah, tepekur membaca.
“Sore bunda !! Cerah sekali sore ini ya ? Masih belum kelar Mansfield Park-nya ?” sapanya riang.
Ibunya tersenyum. Lyn perlahan mendekat dan tiba – tiba sedikit terburu – buru menunduk berusaha mencium pipi ibunya. Sebuah gerakan dan agak mendadak, dan cukup dapat membuatnya oleng. Terdengar bunyi benda terjatuh. Ibunya terkejut. Sekonyong bangkit dengan satu tangan mencengkeram lengan putrinya, dan tangan lain berusaha dengan payah meraih benda yang terjatuh tadi.
Sebuah penyangga kaki.
“Duh, hati – hati dong sayang ! Kamu semangat sekali !” ujar sang ibu ketika penyangga kaki tadi sudah berada pada tempatnya. Sang ibu mengelus wajah putrinya. Kini teraba dan terlihat jelas bekas jahitan panjang dari pelipis hingga pipi ranum gadis itu.
Lyn tersenyum lebar, sebelum kemudian membalikkan badan dan perlahan menuju kamar, membuka pintunya dan berbalik kembali untuk menutup pintu. Sebelum pintu kamarnya benar – benar menutup, sempat satu kerlingan ia arahkan ke sang ibu yang masih berdiri menyaksikannya memasuki kamar. Sempat dilihatnya ekspresi aneh dari ibunya saat itu.

***
Bunda kini tengah menatap pintu yang tertutup.
Perasaan seperti baru tersambar petir baru saja ia rasakan. Nafasnya tiba – tiba menjadi sesak. Beliau terduduk. Di tengah sengalnya, didengarnya pintu depan diketuk. Didengarnya suara dua wanita yang dikenalnya. Ros dan Yun.
Ia menghela nafas. Dua wanita itu sering sekali memperlakukannya seperti ‘tong sampah’. Ia tahu, Lyn berfikir ia dekat dengan keduanya. Hmmh, hanya masalah sopan santun dan etika saja. Setengah berbisik ia memanggil pembantu rumah tangganya yang kebetulan tengah berada di meja makan yang berada bersebelahan dengan ruang tengah. Ia tengah menyiapkan sajian teh jahe hangat kesukaan keluarga tempat ia bekerja.
“Sstt, Min !” dilihatnya sang majikan melambai. Dengan langkah sedikit tergesa Min mendekat.
“Bilang ke mereka, aku sedang ke supermarket beli keperluan bulanan atau kemana gitu, ya..” Min mengangguk dan segara melaksanakan perintah majikannya.
Bunda menghela nafas panjang, merasakan nafasnya yang sudah mulai normal kembali. Ia memejamkan mata. Dapat didengarnya percakapan singkat Min dengan kedua ibu itu. Pikiran Bunda menerawang diwaktu – waktu yang seakan telah berabad lalu ia tinggalkan, seperti sebuah mimpi buruk layaknya.
Kecelakaan itu.
Sebelum kecelakaan itu terjadi, Lyn adalah gadis dengan kecantikan fisik yang kata orang nyaris sempurna. Daya tarik-nya pun luar biasa. Ia menjadi pujaan hampir semua lelaki di sekolah maupun di lingkungan sekitarnya. Dan bahkan banyak diantara mereka yang tiada juga beranjak, tatkala mereka menemui kenyataan bahwa hati Lyn, tidaklah secantik wajahnya. Rupanya kemolekan jasmani dapat sedemikian membius.
Bunda menghela nafas kembali. Anak gadisnya itu memang dulu tinggi hati, sinis pada yang tak berpunya, suka menghamburkan uang, bersenang – senang. Ekonomi keluarga mereka yang berkecukupan, terlebih sebelum ayah Lyn bercerai dengan Bunda, juga menjadi pemicu terbesar. Itu belum termasuk wajahnya yang cantik dan pintar. Bunda merasa ada yang salah dari cara ia mendidik anak gadisnya itu, Rasanya, apapun akan Bunda lakukan untuk dapat merubahnya.
Kamdian terjadilah peristiwa itu. Sebuah kecelakaan yang meminta sebelah kaki Lyn untu diamputasi, ditambah denga luka menganga di bagian pelipis hingga pipinya yang menghadiahinya bekas jahitan panjang yang mungkin tidak akan pernah hilang bekasnya. Belum lagi kemudian diketahui bahwa kondisi kejiwaan Lyn-pun agak terganggu. Pernah sekurang – kurangnya, tiga kali seminggu Bunda harus mengantar Lyn ke dokter maupun ke psikiater. Ah, segalanya memang tidak perlu dirubah, hanya perlu diperbaiki. Begitu Bunda bertekad. Anak gadisnya masih tetap cantik, dan juga tidak gila. Hanya kepribadiannya yang lama, seakan telah terkubur dalam. Mungkin ini pertanda baik. Mungkin hanya diperlukan usaha yang lebih keras lagi, pikir Bunda.
Dan saat itulah Bunda teringat akan pemuda itu.
Bunda menutup matanya rapat.
Lyn memuja anak muda itu.
Oh ya, tentu saja Bunda tahu siapa dia.
Terbayang di pelupuk mata Bunda, wajah pemuda itu. Tubuhnya mungil, kurus dan hitam. Rambutnya kasar dan jarang. Barisan atas dari gigi kuningnya agak menonjol ke depan, sehingga terkadang menyulitkannya untuk berbicara dengan jelas. Mata terlalu besar untuk ukuran wajahnya yang mungil. Ia berjalan pincang, karena satu kakiknya lebih kecil dari kaki yang lain. Ia adalah putra dari suami istri pengurus rumah tangga dari keluarga Singgih yang tinggal di depan rumah mereka. Keluarga miskin yang bersahaja dan setia. Sepadan dengan keluarga Singgih yang baik hati, pada siapa mereka bekerja. Sebelum bekerja pada keluarga Singgih, sempat si anak mereka ajak tinggal pada kelurga dimana mereka bekerja. Namun ternyata keluarga itu merasa jijik padanya, sehingga anak muda itu mereka titipkan di kampung. Beberapa tahun lalu pemuda itu tinggal bersama sang nenek di kampung. Setelah sang nenek wafat, ia tinggal dengan keluarga pamannya. Putus sekolah, dan menjadi bahan olok- olok dari orang – orang di sekitanya. Suatu kali sang paman mengabarkan ke kota, bahwa ia tidak lagi mampu hidup dengan anak muda itu, karena tak kuat menaggung malu. Belum lagi mereka menilai, usaha jahitan mereka menyepi juga dikarenakan adanya pemuda itu. Orang – orang yang bertandang untuk mengirimkan bahan jahitan merasa malas dan jijik melihat pemuda itu sering mengorek koreng.
Mendengar itu, keluarga Singgih mengundang anak itu untuk datang berkunjung, dan meimintanya untuk tinggal bersama orang tuanya. Ia diberi pekerjaan di peternakan milik Pak Singgih. Tiap pagi hingga menjelang Maghrib ia bekerja di sana. Bunda tahu betul hatinya seputih salju, dan juga rajin. Seakan bila ia mampu memindahkan gunung, maka akan ia lakukan untuk dapat membantu orang lain, tampa pamrih. Lagipula ia juga bukan anak yang bodoh. Sesuatu yang sangat sulit untuk dapat terlihat dengan jelas.
Namanya ? Ya, tentu saja Bunda ingat. Namanya SULAT. Sebuah nama yang aneh. Mungkin memang sebaiknya ia gunakan saja nama Orlando pemberian Lyn, atau dihadiahi nama – nama indah yang lain, mengingat betapa indah pribadinya. Namun ternyata, hanya segelintir orang saja yang mampu melihat keindahan sejati itu dengan jelas, dan salah satunya adalah putrinya sendiri, Lyn.

***
Bola mata Lyn bersinar tatkala pandangannya tertuju pada sosok di balik jendela kamarnya. Beberapa langkah di depan rumahnya. Terseok – seok menuju pintu pagar rumah di depan rumah Lyn. Kulitnya hitamnya melegam terpanggang sinar matahari. Agak bersisik bersimbah keringat. Kala itu seseorang melewati depan rumahnya, dan berusaha ia sapa dengan ramah. Sepertinya ia kini sedang tersenyum lebar, karena barisan gigi kuningnya tampak jelas.Rambut kasarnya yang tampak lebih kusut, kali ini dihiasi beberapa batang jerami. Bukan pemandangan indah bagi sebagian orang. Mungkin yang ada hanya rasa jijik atau iba.
Tapi ada sinir pesona yang mengubah pemandangan di seberang jalan itu, dan jatuh ke bola mata indah milik Lyn. Lalu coba kita berkaca pada bola mata itu, dan menatap metamorfosa mengejutkan di dalamnya. Betapa sosok di seberang jalan itu kini tampak begitu mempesona, begitu cantik. Begitu cemerlang dalam sosok lelaki yang luar biasa tampan bersinar. Tubuhnya jangkung dengan rambut yang indah, hidung mancung dan sinar mata ramah yang bahkan terlihat ikut menebar senyum. Kita tidak akan mampu menandingi pesonanya. Kita akan tertangkap arusnya.
Ah, andai saja engkau bisa melihatnya !
Tapi kau tak bisa melihat itu dari wajahnya.
Tapi ada yang bisa engkau lihat.
Lihatlah Lyn yang baru saja menangkap sosok malaikat di matanya.
Dari sini engkau bisa melihat : gadis manis kita, kini sedang jatuh cinta.


***********





Rabu, April 23, 2008

When A Man Loves A Woman

Apa sih yang kita tahu soal cinta ?
Mungkin kamu tahu banyak, dan gue enggak.
Mungkin juga kita lebih banyak merasakan daripada mengetahui.
Meng-artikan dengan jelas cinta itu apa dan yang mana juga kita masih sering agak kebingungan
Ada teman yang memandang, cinta sama saja dengan asmara. Baginya, cinta sedikit lebih ‘kotor’ karena dipengaruhi oleh nafsu. Kedudukan yang lebih tinggi darinya ditempati oleh Kasih.
Sementara gue sendiri menilai cinta itu segalanya.
Didalam cinta itu lah ada kasih, sayang, kemuliaan, keindahan, asmara, keceriaan, menerima, memberi, suci, dsb.
Dari panggung cinta asmara, banyak cerita – cerita yang setiap saat dapat kita dengar, baca dan lihat.
Dari pengalaman kita dan kawan, dari cerita di buku, lagu, televisi dan film.
Entah karena gue ini kurang gaul atau apa, gue selalu berpikiran bahwa sosok – sosok ‘Romeo’ dalam film adalah sosok murni rekaan (terutama pada jaman kini), meskipun gue tahu, karakter dalam film merupakan hasil pengamatan dari karakter sosok manusia yang sebenarnya ada.
Katanya, sekarang ini perempuan lebih banyak jumlahnya daripada laki – laki. Dan karena gue perempuan dan semuanya gue lihat dari sudut pandang perempuan, gue tidak terlalu percaya pada romantisme harlequin milik laki - laki.
Bagi gue, ketulusan tidak akan pernah ada pada bunga dan cokelat.
Beberapa sahabat dan saudara perempuan pernah bertekuk lutut pada bunga dan coklat, dan akhirnya kecewa. Beberapa dengan cara yang masih bisa diterima, beberapa yang lain dengan cara keji. Contohnya : mereka ternyat hanya menjadi bahan taruhan.
Saat ini, katanya strategi lelaki sudah berubah. Sekarang ini jamannya segala hal yang real dan masuk akal. Mereka tidak lagi umbar janji yang muluk. Sebagai gantinya, mereka berusaha untuk tampil apa adanya dan bahkan seolah tidak perduli, playing hard to get. Perempuan-pun mulai gemas dan tergoda, tanpa menyadari itu hanya taktik belakadc. Cuma beda strategi saja. Ujung – ujungnya sama.

Berada diluar garis memuja dan dipuja, mencinta dan dicinta, gue malah jadi tahu, Romeo sesungguhnya memang ada.
Dia ada dalam diri orang – orang yang bisa gue sebut dan anggap saudara, sahabat dan teman.
Dan gue takjub.
Dalam kapasitas mereka masing – masing, rasanya mereka bisa saja berpindah hati kapan saja dan kepada siapa saja yang mereka mau. Dan menurut gue, mereka sebenarnya punya ‘modal’ yang cukup untuk itu. Satu hal yang lucunya sering tidak mereka sadari.
Yang jelas terlihat adalah, paling tidak dalam kurun waktu tertentu yang cukup panjang ( beberapa diantaranya hingga saat ini ), Romeo dalam diri mereka masih tertaut pada Juliet yang sama.

Bunga dan coklat adalah hal yang mengada - ada ?
Ternyata gue salah .
Mungkin gue mesti merubah pendapat bahwa keduanya hanya merupakan sarana, yang tujuannya tidak selalu sama buruknya.
Pemuda yang bisa dibilang sangat dekat dengan gue ini, bukan hanya akan menghujani perempuan pujaannya dengan bunga dan coklat. Dia akan bersedia melakukan apa saja untuk perempuannya. Sebut apa saja. Hal – hal yang tadinya kamu pikir cuma ada di novel – novel roman picisan, dan ia melakukannya dengan tulus.
Gue cuma ternganga mendengarnya.
Komen gue cuma singkat “lo idup di taon berapa sih ?” . Dan dia cuma meringis, tidak perduli.
Gue rasa, jika kemudian ia dikecewakan, toh ia tidak akan berubah. Dia akan melakukan hal yang sama untuk perempuan yang selanjutnya.

Ada juga Romeo yang tetap memilih perempuan yang sama, bahkan setelah si perempuan sempat main api dengan orang lain yang secara umum terlihat kualitasnya jauh dibawah Romeo gue ini. Orang tua dari laki – laki ini, yang mengetahui tingkah si perempuan, mulai tidak respek. Tetapi bisa ditebak, Romeo ini tetap kekeuh. Bukan tidak berarti ia tidak mencoba berpaling dan bukan berarti tidak ada perempuan yang mencoba menggoda dan mendekatinya.
Tetapi siapa yang bisa melawan kukuhnya hati seorang Romeo.
Begitu si perempuan kembali kepadanya, dengan proses yang cukup panjang dan berhati – hati mereka kembali mendapatkan kepercayaan dari kedua orang tua dari si lelaki.
Dan sekarang mereka berencana menikah.

Romeo berikutnya, adalah sosok yang bisa dibilang tahan banting dan tahan malu. Ia terus menerus mengejar orang yang sama bahkan setelah beberapa kali ditolak.
‘The more you ignore me, the closer I get”.

Lalu tiba – tiba muncul Romeo pecinta yang lain. Sahabatku ini adalah pemuda ber-etnis Tionghoa, yang beragama kristiani. Dengan segala kesadaran ia menjatuhkan pilihan kepada seorang perempuan ber-etnis Arab dan berjilbab. Baginya masa depan untuk mereka berdua masih fatamorgana. Dalam usianya yang muda ia tidak dulu mau berpikir ke arah sana, dan ketakutan akan kehilangan masih terlihat waktu ia bercerita soal itu ke gue.
Tetapi jika suatu saat nasib menuntun mereka kesana, apa iya mereka mesti di pisahkan ?

Apa kamu juga pernah menemui laki – laki yang rela dimaki, rela tidak diperdulikan, dan ia masih tetap memilih orang yang sama ? Gue kenal baik lelaki seperti itu. Sebelum dengan perempuannya, ia sempat putus sambung dengan beberapa perempuan, hingga ia bertemu dengan Juliet-nya ini. Tidak banyak yang ia ingin perempuannya lakukan. Hanya memberi kabar sesekali sehingga tidak hilang kontak, dan yang diterimanya adalah makian dan hujatan. Bahkan saat sang Juliet memuntuskan agar mereka ‘break’ untuk memberi ruang bagi masing – masing mereka, sang Romeo tetap intens menghubungi dan menghujaninya dengan kata – kata rindu.
Karena satu hal.
He’s still not over her.
Dan gue ga tahu sampai kapan.

Ada dua orang lelaki yang gue kenal mirip seperti itu. Yang seorang lagi sekarang bahkan sudah berbahagia hidup dengan perempuannya (or not?). Saat pacaran, gue lebih sering geleng – geleng kepala. Juliet pujaannya ini seolah memiliki kepribadian ganda. Dari detik pertama yang begitu terbakar bara, meledak – ledak membanting apa saja, dapat berubah menghiba pada beberapa detik berikutnya.

Sementara itu di tempat yang lain, gue mengenal karib seorang yang sampai saat terakhir gue kontak dengannya, hatinya masih tertaut pada seorang perempuan yang dikenalnya dulu.
Kekasih lamanya.
Saat ini ia itu sudah menikah dan tetap mengakui masih sangat mencintai perempuannya yang dulu, dan bukan istrinya.

Gue ga tahu apakah sebenarnya alasan – alasan inilah yang membuat banyak lelaki berselingkuh atau menemui kehidupan yang tidak bahagia bersama pasangan mereka masing - masing. Yang jelas kedua hal itulah yang banyak gue tahu tentang laki – laki. Selingkuh dan tidak berbahagia dengan pasangannya saat ini.

Apa ada cerita lain lagi dari kamu ?

Yang jelas, ternyata diantara riuhnya perempuan di dunia saat ini, ternyata tempat mereka yang tinggi belum juga mampu tergantikan.
Dan ini juga menyadarkan gue akan satu hal : laki – laki seperti mereka ternyata ada !

Kamis, April 17, 2008

Apakah 'normal' itu ?

Juno
Directed By : Jason Reitman
Cast : Ellen Page, Michael Cera, Jennifer Garner, Jason Bateman, Allison Janney, JK Simmons
Image and video hosting by TinyPic
Plot :
Sixteen year-old Juno MacGuff is the type of girl that beats to her own drummer, and doesn't really care what others may think of her. She learns that she's pregnant from a one-time sexual encounter with her best friend, Paulie Bleeker. Juno and Paulie like each other, but don't consider themselves to be exclusive boyfriend/girlfriend let alone be ready to be a family complete with child.
The next step is to find prospective parents for the yet unborn child. In the Pennysaver ad section, Juno finds Mark and Vanessa Loring, a yuppie couple living in the suburbs. Juno likes the Lorings, and in some respects has found who looks to be a kindred spirit in Mark, with whom she shares a love of grunge music and horror films. Vanessa is a little more uptight and is the one in the relationship seemingly most eager to have a baby. On her own choosing, Juno enters into a closed rather than open adoption

My Note :

Ellen Page memang pantas menjadi perempuan muda yang smart dan easy going seperti Juno. Melihat ceplas ceplos smart-nya, gue mau ga mau keinget sama temen gue yang beda umur lumayan jauh sama gue. Dia jauh lebih muda. Anak band, tomboy serta perokok dan addict pada kopi. Selera musiknya-pun lawas, sama dengan Juno. Bersamanya, gue merasa nyaman, meskipun jadi merasa gue ini yang lebih muda dari dia. Denger dia bicara, selain enak, nyambung, juga banyak manfaatnya. Paling tidak gue jadi tambah wawasan, dan kita jadi bisa saling tukar pikiran.
For awhile, gue merasa lega tidak perlu berbicara dan mendengar orang bicara yang baik – baik soal diri mereka sendiri, soal merk bedak, model baju, gossip dan pekerjaan. Somethin’ else. Dia selalu punya hal lain untuk dibicarakan.
Gue jadi sadar betapa mencari kawan perempuan seperti dia seperti mencari jarum dalam jerami. Bahkan gue saja yakin kalau gue ini tidak seperti dia, karena gue masih suka make up, mencari model baju terbaru, gengsi dan kepingin tahu gimana caranya cari uang sebanyak – banyaknya !
Meskipun tidak bisa dibilang hilang kontak, gue udah ga tau lagi dia ada dimana dan bagaimana kabarnya.
Cuma kangen aja sama dia.
Dan melihat Juno, gue seperti melihat dia. Image and video hosting by TinyPic

Gue pengen banget seberani Juno dalam bertindak dan berani bertanggung jawab dengan apa yang sudah dilakukannya.
Andai kata kala gue remaja gue bisa dengan ringan menjawab ke bokap tatkala beliau tanya ke gue kemana aja gue seharian dengan kalimat yang Juno ucapkan pada ayahnya saat ia dengan perut yang sudah membuncit pergi seharian selepas pulang sekolah : ‘Just out dealing with things way beyond my maturity level’ dengan nada tetap respek. Hanya berusaha untuk jujur pada orang tua namun dengan memberikan batasan privasi seolah memberi tanda bahwa ‘ini adalah urusan saya, biar saya yang handle, kalian tidak perlu khawatir karena saya tidak melakukan hal aneh – aneh dan saya akan bertanggung jawab atasnya’

Kagum atas Juno, membuat gue berpikir soal segala hal yang sifatnya normal. What is normal anyway ? Lahir, hidup, (harus) menikah dan (harus) punya anak. Semuanya dengan cara yang normal. (harus)ber pendidikan tinggi, (harus) bekerja di kantor, (harus) menemui pasangan hidup seiman / sesuku / seperguruan, bibit, bobot, bebet dan bertemu dengan cara yang normal (atau mungkin dijodohkan).

Dalam ‘Juno’, pasangan Vanessa & Mark Loring lah yang tampaknya normal dan baik – baik saja, namun ternyata mereka justru bermasalah, hingga Juno sempat melontarkan kalimat : I’m just losing my faith with humanity.
Banyak orang di sekitar kita tampak normal, namun mereka ternyata bermasalah.
Jika kemudian yang dianggap ‘tidak normal’ digunjingkan, dicibir, dijauhi, harus kita apakan orang – orang normal yang bermasalah ini ?
Dikasihani, mungkin ?!

Juno :
… and I know people are supposed to fall in love before they reproduce, but I guess normalcy isn’t really our style

So, bagi kita yang masih normal / merasa normal, pernahkan kamu paling tidak sekali saja berfikir, membayangkan, bertutur atau bertindak yang tidak normal ?

Kalau gue, pernah.
Atau malah sering ya ?
Jangan – jangan gue juga ga normal !

Rabu, April 16, 2008

In The Name Of The Children

Gue di kantor, pagi, tergopoh2 menuju lift
Teman : Hi dik ! Pagi, santai amat nih bajunya..
Gue : Hi mbak ! Iya, kalo mesti pake seragam dari rumah, bisa bau harum segala rupa! Bau knalpot, bau rokok, bau ketek he he he ( dan jawaban ini sudah kesekian kalinya gue lontarkan ke teman – teman yang mengomentari soal baju casual yang gue pake setiap berangkat kantor)
Image and video hosting by TinyPic
Kita berdua masuk ke dalam lift.

Teman : Belum isi juga ?
Gue : Belum (gue selalu tegang kalo ditanya soal ini)
Teman : Kenapa ? Emang rencana ditunda ?
Gue : (heeere we go ! gue malas menjawab pertanyaan semacam ini, entah itu basa basi maupun tidak) Enggaaak. Biasa aja kok mba. Umur juga udah segini, mau ditahan apanya (tertawa garing)
Teman : Udah usaha ke dokter ?
Gue : Nggak mbak. Usaha sendiri sih teruus, tetapi memang kita belum periksa ke dokter.
Teman : (mengangguk – angguk ) Memang sudah berapa lama kamu menikah ?
Gue : Engg… kurang lebih dua tahun
Teman : (dengan nada meninggi) Ohhh, nyantai aja, dik ! Aku saja sudah lima tahun menikah, dan belum juga dikasih. Aku malah sudah ke dokter, dan kami berdua sehat – sehat saja, udah usaha yang lain juga malah. Tapi memang belum dikasih. Padahal sudah pingiin sekali. Kamu masih dua tahun, nyantai saja ( lift sampai di lantai yang ia tuju ). Yuk, dik.
Dan gue bernafas lega….
Image and video hosting by TinyPic
Gue dan berita di TV
Melihat bayi2 yang dibuang di dalam kardus dan membiru

Gue di angkot.
Gue lihat supir angkot ngobrol seru dengan dua orang kawannya yang bersempit2 menduduki bangku di samping supir.
Tiba – tiba mereka terdiam, dan kesunyian dipecah oleh orang yang duduk paling pinggir. Matanya menerawang keluar jendela angkot sementara tangan dengan jari telunjuk dan tengah mencengkeram sebatang rokok, ia tumpangkan di pinggir jendela.
Teman Supir : Ck ! Bini gue lahiran lagi !
Kedua kawannya tertawa.
Supir : Ha ha ha ha … makanya diplester ! Punya lo yang diplester !
Teman Supir : (bergumam kurang jelas)
Supir : Elo sih ! Mentang2 enak, lo tancep terus, jebol dah ! Ha ha ha ha !
(Lalu dengan tanpa beban ia melanjutkan ) Elo tahu anak gue yang kedua kan ? Nah, anak peyesalan noh ! Gue pikir aman, tau – tau bini gue gendut lage. Gue tanya ke die “Gimane nih ? Kok jadi lage ?” eh dia jawab “Iye bang…lupa” (mungkin yang dimaksud istri si supir ini adalah si istri lupa pasang spiral, minum pil KB atau lupa jadwal mens-nya). Akhirnya lahir dah nyang ntu, anak kedua gue !
Image and video hosting by TinyPic
In the name of all children in the world..
Tiba – tiba gue terharu biru….

Selasa, April 15, 2008

Akibat Asa Yang Putus

The Mist
Directed By : Frank Darabont
Cast : Thomas Jane, Marcia Gay Hayden, Nathan Gamble, Laurie Holden
Image and video hosting by TinyPic
Plot :
After a violent storm attacks a town in Maine, an approaching cloud of mist appears the next morning. As the mist quickly envelops the area, a group of people get trapped in a local grocery store -among them, artist David Drayton and his five-year-old son. The people soon discover that within the mist lives numerous species of horrific, unworldly creatures that entered through an inter-dimensional rift, which may or may not have been caused by a nearby military base. As the world around them manifests into a literal hell-on-earth, the horrified citizens try desperately to survive this apocalyptic disaster. Written by thedictator@sbcglobal.net

My Note :

Gue tertarik film ini karena 2 hal : Stephen King dan Frank Darabont.
Cerita2 horror-nya Stephen King benar2 luar biasa, seolah mimpi buruk yang menjadi nyata. Efeknya jauh melebihi Nightmare On Elm Street yang terkesan dibuat2. Tiap episode serial Nightmare & Dreamscapes (salah satu serial yang diambil dari kumpulan cerpen-nya King) gue nikmati banget, sambil mengangguk2 tentu, karena khayalan gue tentang hal2 buruk ternyata terwakili oleh cerita2 King. Luar biasanya, King adalah penulis cerita drama yang luar biasa. Kalo lo pernah nonton Green Mile dan Shawshank Redemption, lo akan tahu maksud gue. Nah, kedua film cantik itu disutradarai oleh Frank Darabont. Ga salah dong kalo gue tertarik nonton The Mist ?!
Sewaktu gue puter film ini, mau ga mau gue banyak berharap. Excitement yang gue dapat di awal penayangan, sempat drop tatkala gue melihat monster tentakel muncul. Blah ! ‘Dream Catcher’ kind of movie ! Satu – satunya film King yang gue benci adalah Dream Catcher. Suami gue menyarankan untuk sabar nonton, karena dia yakin banget bakalan ada sesuatu yang lain. Jika toh The Mist = monster tentakel yang basi, maka biasanya King akan menyorot karakter2 yang ada di dalamnya, hubungannya dengan karakter lain, dan bagaimana dalam situasi seperti itu manusia2 memunculkan watak aslinya. Well, ternyata dia benar. Ada drama disitu, yang membuat kita belajar banyak. Plus bonus kejutan bahwa film ini tidak cuma menghadiahi monster tentakel, tetapi suatu misteri yang lain.
Image and video hosting by TinyPic
Yang paling cantik dari film ini adalah endingnya. Jika kemudian ada comment bahwa film ini mempunyai : one of the most shocking movie endings ever, gue setuju banget.
Gue jamin lo akan gemas dengan ending-nya.
Ada pelajaran yang bisa gue petik darinya, bahwa betapa dalam kondisi seberat apapun, jangan sampai kita sekalipun atau sedetikpun berputus asa, yang kemudian melahirkan kata – kata atau tindakan gegabah yang akan kita sesali seumur hidup.
Lo akan tahu maksud gue kalo lo nonton film ini.
Yaah, untuk seru2an, suguhan adegan yang memicu adrenalin juga ga kurang banyak kok. So, film ini komplit banget !
Pada covernya juga terdapat komentar heboh bahwa film ini adalah film yang ga bisa gitu aja lo lupain. Stay with you for along time. Gw sempat berpikiran negative dan mencibir sedikit, bahwa kemungkinan komentar itu ditujukan untuk menggambarkan betapa seramnya film ini, tentunya plus dengan kesan hiperbolis.
Namun ternyata gue salah.
Film ini memang tidak terlupakan.